Saturday, September 02, 2006

Short Path in Life

Beberapa hari ini aku tersibukkan dengan berbagai macam hal yang baru dalam hidup. But this is what i'm looking for for this long !! Bertemu dengan berbagai macam kondisi baru, teman baru, paradigma baru, ide baru, wawasan baru, dan berbagai macam hal baru yang membuatku semakin sadar bahwa diri ini bukan apa-apa. Ada sebuah kisah menarik yang membuatku tersadar akan satu hal. Hidup adalah sebuah perjalanan untuk mencapai suatu tujuan. Aku yakin bahwa hidup adalah sebuah proses yang akan membuktikan sejauh mana kita dapat berbuat. sehingga esensi dari hidup ini hanya dua, karya apa yang kita tinggalkan dan kontribusi apa yang sudah kita berikan, terlepas siapa objek dari kedua hal tersebut.

Beberapa hari inipun aku selalu marasa bersemangat menjalani berbagai macam aktivitas. Tidur bisa merasakan nikmatnya, bangun subuh terasa segar, beraktivitas dengan penuh semangat, terasa aura motivasi internal ini di sekitarku. Aku merasa berbinar-binar ketika menceritakan berbagai macam pemikiran yang ada di kepalaku, meskipun aku sebenarnya kurang sreg ketika apa yang ada dipikiranku ini aku komunikasikan kepada yang lain.

"Hidup adalah kumpulan dari pilihan-pilihan, dan pilihan-pilihan itulah yang akan menentukan kemana arah dan tujuan hidupmu". Sepenggal kata yang baru beberapa hari ini aku rasakan intinya. hidup terlalu pendek ketika kita mampir atau melewati pilihan-pilihan yang tidak dengan cepat mengantarkan kita ke tujuan. ibarat ingin ke Dago, buat apa kita dari Dayeuh Kolot melewati Soreang. Memang akan sampai, namun bukankah hal itu akan menguras energi dan akan memperlambat kita mencapai tujuan ? Atau, buat apa kita buat santan kalau kita ingin masak sayur bayam ??? Energi habis, uang habis, waktu habis, dan berbagai macam resource yang kita miliki pasti habis.

So.... ganbatte, create something, leave something !!

arief.lutfi@database laboratory, 2 September 2006, 09.52 pm


Wednesday, August 09, 2006

Sebuah Catatan Pendek di Celana Biru Donkerku

Gimana nih kabarnya,

Apakah semua yang kita impikan dahulu semakin dekat dengan bayang-bayang kita, ataukah semua masih menunggu untuk dijemput seiring dengan kedewasaan kita? Ternyata perjalanan ini tak semudah yang kita bayangkan. Akhir-akhir ini aku merasa tidak enak, entah apa yang aku pikirkan saat ini. Sesuatu yang baru sering beriring mengantarku untuk lebih tau dimana dunia itu berpihak.

Ternyata sudah beberapa tahun aku menginjakan kaki ini di bawah naungan langit yang berbeda. Semuanya seperti mimpi, membuai hingga tak terasa usiaku semakin berkurang.

Di sini aku melangkahkan kakiku. Walau harus berlari, ataupun berjalan pelan itu bukan suatu masalah. Karena yang penting, bukan seberapa cepat kita berjalan, namun ke manakah arah yang akan kita tempuh. Ada beberapa pilihan, berlari mundur sebagai seorang pengecut atau ke depan menantang sang malam

Hari ini kesadaranku semakin tergugah. Alam yang dulu telah membesarkan kita, ternyata menuntut untuk diberi sebuah pembelaan. Entah dalam hal apa, aku kurang tahu. Atau mungkin itu sebuah kesengajaan? Agar kita selalu sadar bahwa matahari selalu menunggu kita untuk diberi sebuah jawaban.

Beberapa hari ini aku sedikit tertinggal dengan berita di luar sana. Bagaimana kabar gunung merapi di sana? Aku rindu dengan belaiannya. Saat-saat ketika aku merasa tenang berada di pundaknya yang tegar, ditemani bunga-bunga rumput yang selalu setia berada di dekatnya. Apakah wajah sang malam masih berada di bawah bayang-bayang tiran? Seperti dahulu ketika mimpi masih menjadi sebuah angan-angan yang suci. Namun seperti biasa aku hanya bisa bersenandung spektrum dua nada:

masih segar dalam ingatan sang malam

ketika bulan dan bintang saling duduk bersisian

dari keduanya muncul keelokan perbedaan dalam kelengkapan

dua tanda saling berkaitan

yang satu meniadakan yang lain

yang satu ada karena yang lain

bandung, beberapa hari menjelang kedatangan sahabat perjuanganku yang baru .......

Saturday, July 15, 2006

takut untuk sekolah lagi

Ada sebuah planning yang diharapkan oleh orang tuaku manakala aku sudah lulus sarjana, yaitu melanjutkan sekolah, raih ilmu dan gelar sebanyak yang aku bisa. Pada awalnya aku menganggap hal itu merupakan hal yang wajar, meskipun secara pribadi aku tidak terlalu suka gelar yang terlalu tinggi, yang belum tentu sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Apalagi ditambah orientasiku sangat berbeda dengan orientasi orang tuaku dalam memandang permasalahan sekolah. Orang tua ku menganggap bahwa sekolah formal merupakan sebuah prestise dan kebanggaan tersendiri, apalagi ditambah ketika lulus langsung kerja dan mempunyai jabatan yang tinggi. Bagiku memang hal itu tidak sepenuhnya salah, namun bagiku, life university lebih penting, sebuah proses pendewasaan berfikir, perpikir kritis dan terbuka, berinovasi tanpa harus dibebani dengan landasan teori yang pernah ada, yang belum tentu sesuai dengan permasalahan yang berkembang, merupakan buah dari life university.
Aku merupakan tipe orang yang berpikir terbuka, yang tidak terbelenggu dalam suatu pola pemikiran tertentu (kecuali dalam hal spiritual). Aku memang orang yang sangat suka membaca, terkadang aku merasakan banyak manfaat dari membaca, namun sering juga ternyata karena membaca aku menjadi seorang tekstualis yang tidak bisa bepikir lebih jauh dengan menembus batasan teori-teori yang ada dalam buku yang aku baca. Ada hal yang sering aku iri terhadap orang yang jarang membaca, mereka bisa berpikir merdeka, pola berpikirnya tidak dibatasi dengan suatu teori apapun yang ada dalam buku, sehingga menghasilkan condition oriented solution.
Permasalahan yang harus dihadapi dalam hidup ini sangat unik, tidak ada satupun masalah yang benar-benar sama mirip, sehingga aku merasa seharusnya solusi yang dihasilkanpun harus benar-benar unik, yang tidak pernah sama, atau terikat dengan aturan-aturan tertentu. Hal inilah yang merupakan permasalahan utama ketika kuliah. Aku merasa kuliah hanya memaksa orang untuk berpikir seragam, memang pada hasilnya ada beberapa yang beda, namun saya yakin bedanya pun tidak jauh. Kenapa orang berpikir seragam, karena dengan kuliah cara-cara berpikir merekapun sudah terkerangka dengan suatu teori yang sudah ada, sehingga kerangka dan pola berpikirnya setiap orang dalam perkuliahan selalu sama tidak boileh berbeda, apalagi ketika ada dosen yang mengharuskan mahasiswa ketika menyelesaikan permasalahan harus sesuai dengan teori yang ada. Hal inilah yang merupakan penyebab utama kenapa sekolah hanya akan menghancurkan inovasi seseorang. Kalau dipikir pikir apa sih kesakralan teori-teori yang sudah ada ???? Sebagai contoh, dalam mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak yang aku hadapi di semester 4 dan 6, kita diwajibkan untuk menurut dengan kerangka berfikir seseorang, padahal bisa jadi dia mempunyai cara sendiri yang unik yang mungkin berbeda dan lebih baik dengan teori yang sudah ada. Hal inilah yang membuat aku taku untuk kuliah lagi dan mendingan kuliah di life university yang membuat ku bebas berpikir dan berkreasi semau apa yang aku mau ..... :)

Innosolution

Kerja bersama dalam sebuah tim mentuntut sebuah konsekuensi bahwa setiap permasalahan yang ada harus diselesaikan dalam sebuah kerangka berfikir yang disepakati bersama, entah itu ditentukan oleh seorang pemimpin dalam sebuah tim, atau ditentukan oleh personal dalam sebuah tim tersebut. Ada sebuah kondisi yang menarik perhatianku dalam penyelesaian permasalahan dalam tim dan kepanitiaan yang aku alami beberapa hari ini. Sudah seperti sebuah sifat yang manusiawi manakala seseorang telah berhasil menemukan sebuah solusi terhadap permasalahan yang dialami akan merasa sangat bahagia. Namun dalam beberapa hari ini aku berfikir, ada sesuatu yang mengerikan ketika sebuah solusi dalam suatu permasalahan telah ditemukan. Sesuatu yang mengerikan itu adalah kemungkinan matinya inovasi yang dialami oleh tim dan individu penyusun tim itu.
Menurutku, ada beberapa hal yang menyebabkan matinya sebuah inovasi dalam sebuah tim ketika menyelesaikan suatu permasalahan. Penyebabnya antara lain :
  1. Buruknya kondisi diskusi dan sharing ide dalam sebuah tim, hal ini mungkin disebabkan karena kediktatoran seorang pemimpin yang memaksakan pendapatnya, atau kurang mampunya seorang pemimpin dalam memberikan stimulan kreativitas serta mengelola pendapat yang ada dalam sebuah tim
  2. Kurang beraninya pemimpin dan anggota dalam mengambil resiko dalam pemecahan permasalahan karena menganggap solusi yang diputuskan belum pernah dicoba, terlalu berubah sangat drastis dengan kebiasaan yang pernah ada, atau mungkin merasa sangat sulit untuk dilakukan
  3. Terbelenggunya kebebasan berfikir karena adanya kerangka berfikir yang sudah pernah ada, sehingga merasa salah ketika solusi yang dihasilkan tidak sesuai atau tidak diselesaikan dengan teori-teori dan kerangka berfikir yang sudah ada. Kerangka berfikir dalam hal ini biasanya berkaitan erat dengan teori-teori keilmuan yang sudah ada, padahal kalau dipikirkan lebih lanjut, teori-teori yang ada tersebut merupakan solusi berpikir kreatif karena kurang terakomodirnya permasalahan yang ada dengan teori yang tersedia. Sehingga kalau memang permasalahan yang ada hanya dapat dipecahkan dengan cara berfikir yang baru, kenapa kita masih mempersoalkan kenapa tidak menggunakan teori yang lama
  4. Tidak adanya keberanian mengungkapkan pendapat dari anggota tim, hal ini biasanya disebabkan karena takut idenya dianggap bodoh, atau jawaban yang diberikan dianggap salah
  5. Terbelenggunya seseorang dengan solusi yang pernah ada. Hal ini adalah penyebab yang yang aku maksudkan dalam persoalan diatas. Kebanyakan orang sangat susah berubah atau mau berfikir terbuka ketika ada suatu permasalahan yang harus dipecahkan ternyata merupakan sebuah permaslahan yang pernah dia alami, dan dia pernah menyelesaikannya. Manajemen pemecahan permasalahan bukan merupakan permasalahan matematis yang pasti hanya memiliki satu jawaban, sehingga sangat aneh manakala seseorang sudah puas dengan jawaban yang pernah dia berikan. Namuan secara manusiawi, manusia selalu mencari perasaan nyaman dan nikmat, sehingga sangat sukar untuk berubah atau mau menerima suatu ide baru yang mungkin berbeda jauh dengan ide-ide sebelumnya yang dianggap berhasil
Oleh karena itu, hati hati ketika kita menemukan solusi suatu permasalahan dengan cara kita sendiri, karena bisa jadi untuk permasalahan yang sama selanjutnya kita tidak berani berfikir merdeka dengan cara menghancurkan ide yang pernah kita bangun dan membangunnya kembali dengan sebuah ide baru yang jauh lebih dahsyat !!!!!

FAITO...FAITO...FAITO !!!

Wednesday, July 12, 2006

Road to UPGREATING PDKT 2006 part I

Teringat perkataan seorang tokoh perjuangan Afghanistan melawan Rusia, Sheikh Abdullah 'Azzam, beliau mengatakan, bisa jadi perang ini hanya berlangsung beberapa hari, atau bahkan hanya beberapa jam, namun persiapannya lah yang memakan waktu bertahun-tahun, sebuah waktu yang panjang yang membutuhkan ketahanan, kemauan yang keras, dan jiwa seorang ksatria.

PDKT merupakan sebuah proses yang hanya berlangsung selama 7 hari, jangka waktu yang tidak terlalu panjng untuk sebuah proses yang berharap akan berubahnya sebuah paradigma yang bisa jadi telah ada sejak kurang lebih 18 tahun yang lalu. Apalagi proses pembentukan paradigma merupakan sebuah proyek jangka panjang yang tidak semudah mengucapkannya. Paradigma berawal dari sebuah persepsi, kemudian tumbuh muncul menjadi motivasi, sehingga menghasilkan suatu tindakan, jika tindakan itu berulang-ulang, maka jadilah ia sebagai kebiasaan, ketika sudah menjadi sebuah kebiasaan jadilah ia sebagai karakter dan paradigma. Jelaslah proses membentuk sosok mahasiswa ideal tidak hanya membutuhkan waktu sehari dua hari atau bahkan sebulan, namun bisa jadi membutuhkan waktu lebih panjang dari itu.
Namun apa yang mau dikata, waktu untuk pelaksanaan PDKt memang sudah menjadi sebuah harga mati untuk mahasiswa, sekarang tinggal bagaimana OC dan SC memaksimalkan waktu yang ada itu. Seperti tadi yang dikatakan diawal, show time PDKT 2006 bisa jadi hanya berlangsung dalam 7 hari, namun persiapannya lah yang akan menghabiskan banyak energi dan stamina, sehingga hanya orang-orang yang terpilih saja yang mampu bertahan.

Jenuh

Jenuh adalah sebuah permasalahan yang sangat serius yang sering muncul dalam suatu tim. Jenuh merupakan sebuah kondisi natural yang, seperti halnya kondisi manusia yang kadang semangat, kadang jenuh, dan kadang biasa saja. Yang menjadi permasalahannya adalah, bagaimana suatu tim dapat mengatasi kondisi jenuh tersebut, karena kondisi tersebut sudah pasti akan terjadi dalam sebuah tim.

Ada beberapa sinyalemen yang muncul manakala sebuah tim sedang memasuki tahap kejenuhan, yang pertama adalah semakin tidak efektifnya rapat dan pembahasan. Hal ini disebabkan kurang adanya kontribusi personal dalam tim dalam memberikan ide dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Selain itu dapat pula disebabkan oleh tidak fokusnya personal dalam melakukan pembahasan, namuan faktor kurang fokusnya pembahasan ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan dalam tim.
Sinyalemen yang kedua adalah kurangnya ide kreatif yang muncul dalam sebuah tim. Kejenuhan dialami manakala segala macam aktivitas yang ada dalam tim hanya merupakan suatu rutinitas, dan rutinitas itu yang biasanya membuat orang akan semakin terbelenggu dalam berfikir, kemudian mengakibatkan dinamisasi yang ada dalam tim akan semakin konstan, padahal dinamisasi inilah yang dapat mengurasni level kejenuhan seseorang atau tim .... tar dilanjutin lagi ...

Friday, July 07, 2006

sampai suatu ketika

Sampai suatu hari ketika bumi tlah kehilangan cakrawala
Di manakah harus kuletakan mendung ini
Kosong
Apakah demikian itu yang harus dijalani
Hingga burungpun malu untuk mengatakan
Kalau tanah ini butuh kesejukan

Hujan tak setiap saat membasuh kering sang mentari
Hanya sekedar menutupi
Tanpa ada sebuah kesadaran untuk memberikan kasih sayang
Seperi dulu yang pernah kau lakukan kepada kita
Sampai kita sudah merasa
Kalau kita adalah seorang pemberani

Apakah harus kukatakan kepada alam
Kalau siang sudah tidak seterang dahulu
Seperti ketika matahari masih tersenyum kepada kita

hingga suatu ketika

hingga suatu ketika ....
dimana sang mentari sudah enggan untuk bersinar lebih terang
awanpun seakan hanya berlalu tanpa meninggalkan hujan
dan tanahpun seakan sudah bosan dengan ketamakan
kicau burungpun seakan hanya menjadi rintihan panjang keputusasaan
dimanakah keadilan itu ????

hingga suatu ketika .....
labirin hati sudah tertutup tabir kemunafikan
katub-katub penghambaan sudah dirasa usang
sehingga rintihan penindasan malah menjadi nyanyian manis peradaban
inikah keadilan itu ????

apakah peradaban itu selalu dibangun dengan berbagai macam kebusukan
yang menjadikan orang yang berakal seakan menjadi orang gila
yang menjadikan akal sebagai sebuah agama baru tanpa Tuhan
dimanakah fitrah itu ???
sebuah manifestasi suci pengakuan manusia akan eksistensi

tapi aku akan terus menunggu dan mengharap
kapan cahaya itu datang.....

Monday, June 12, 2006

Pesan

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

(Soe Hok Gie)

renungan buat "alumni" madrasah politik kampus

Entah kenapa hari ini serasa panjang. Seakan sang mentari enggan segera pergi meninggalkan langit. Apa karena aku sedang jenuh, menyaksikan bangsa ini diinjak-injak oleh bangsa lain ??? Menulispun seakan-akan harus aku paksakan. Seperi biasa, dalam kondisi seperi ini pikiranku terlalu difuse untuk memikirkan segala sesuatu. Pikiranku melayang entah kemana.

Hari-hari terakhir seakan aku berjalan dengan sangat lambat, atau mungkin malah berjalan dengan merangkak. Kadang aku bertanya, masihkah diri ini berada dalam track kebenaran ilahi ?? Aku tidak takut untuk berjalan dengan merangkak, yang aku takutkan adalah berjalan mundur seperti pengecut yang tidak mengakui kebenaran, atau berjalan maju, namun tidak berada dalam track suci tujuan Tuhan menciptakanku di dunia. Aku ingin maju, maju menantang sang malam yang penuh dengan pilihan. Meskipun pilihannya aku harus merunduk maju atau merangkak maju. Namun yang terpenting adalah aku harus maju ....

Beberapa hari ini pun seakan banyak kabar berita yang tidak aku amati. Bagaimana kabar Merapi disana ? Rindu aku dengan belaian pagi dipuncaknya. Tidak terasa sudah empat tahun aku lewati kehidupanku dengan langit yang berbeda. Tapak-tapak kaki yang sudah aku lalui seakan meninggalkan makna yang mendalam dalam kehidupanku, itupun baru tersadar ketika hati ini tertunduk kepada Tuhan.

Kehidupan baru ini kadang membuatku bosan. Aku mengunggu saat-saat dimana angin keras menerpa tubuhku, atau menunggu saat-saat aku menerobos hamparan hutan lereng gunung Merbabu yang penuh dengan pilihan, seakan-akan aku harus cepat menentukan kemana arah perjalananku. Atau mungkin aku yang salah, yang tidak dapat tanggap dengan amanah dan kewajiban baru yang sudah menghadang di depan mata namun aku tidak menyadarinya ?


*** sebuah renungan buat aktivis kampus yang sudah "pensiun"

Friday, June 09, 2006

seberkas cahaya bernama ketulusan ......

Apa yang ingin aku dapatkan dari semua ini ??? Ketenaran, popularitas, nama baik, prestise atau apa ??? Kucoba untuk mengembalikan rel semangat hidup untuk terus berada dalam koridor suci. Koridor dimana para Nabi, Rosul bersama orang-orang shalih berjuang. Terkadang hati ini terus memberontak, polarisasi hak dan batil selalu mencoba merongrong labirin hatiku. Hari ini terkadang kata sudah tidak bermakna. Shock therapy seakan sudah menjadi solusi hati yang sudah mulai mengeras mengikuti bisikan syetan. Kadang ku merasa apakah kejenuhan yang kurasakan ini adalah buah dari sakitnya hati atau hanya sekedar kesempatan uzlah yang diberikan Tuhan kepadaku ???

Kubaca sebuah buku yang menarik. Buku yang katanya ditulis oleh seorang punggawa Jama'ah Islamiyah yang dituduh teroris di dunia ini. Beliau mengatakan, kita berjuang bukan karena kita punya kekuatan, namun kita berjuang karena memenuhi hak Tuhan terhadap kita. Aku tersentak, seakan ada sebuah sembilu yang menikam hati yang sudah lama rindu dengan pelukan para mujahidin. Badan ku gemetar membaca buku itu, mulutku seakan sudah tidak mampu mengeluarkan kata-kata, aku malu !!!!!

Jika ingin punya hati seluas samudera, jangan bergantung kepada makhluk dan jangan mengharapkan sesuatupun dari makhluk. Harusnya sajadah malamku selalu basah setiap hari ketika ku teringat ucapan itu. Aku malu, aku ragu, apakah sekian lama perjuangan ini sia-sia hanya karena aku banyak berharap kepada makhluk ?????


*** Sebuah renungan untuk aktivis kampus :)